Pandangan Presiden ICCN mengenai Program Magang Mahasiswa Bersertifikat di BUMN





Siti Maryam DF



FHCI (Forum Human Capital Indonesia) adalah sebuah asosiasi perkumpulan HRD (Human Resources Development) perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) di Indonesia. Sekitar 130 hingga 140 BUMN di Indonesia yang tergabung dalam FHCI. FHCI memiliki program magang bersertifikat yang menyentuh seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Program ini merupakan program magang untuk mahasiswa di perusahaan-perusahaan BUMN, dengan jangka waktu enam bulan. Di sini, FHCI sebagai jembatan antara perguruan tinggi dan perusahaan BUMN.


Berdasarkan pedoman pelaksanaan Program Magang Mahasiswa Bersertifikat, maksud pelaksanaan program ini adalah pertama, untuk menjawab tantangan SDM BUMN dimasa yang akan datang. Kedua, menciptakan SDM unggul dengan kompetensi yang mumpuni melalui pemagangan di BUMN dan mencetak SDM yang berdaya saing global. Selain itu, tujuan program ini adalah menghadirkan sinergi melalui BUMN hadir untuk negeri, kandidat rekrutmen untuk BUMN terkait, dan menciptakan SDM yang berjiwa entreprenuer sesuai dengan kebutuhan BUMN.


Program Magang Mahasiswa Bersertifikat dibagi menjadi dua jenis pelaksanaan: Pertama, Magang Bersertifikat Kompetensi. Pada jenis ini mahasiswa melaksanakan pemagangan sesuai dengan kompetensi bidang (posisi) yang menjadi persyaratan untuk menduduki posisi tersebut selama enam bulan. Peserta magang akan melaksanakan uji kompetensi sesuai dengan kompetensi bidang pada akhir masa pemagangan yang dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Nasional.


Kedua, Magang Bersertifikat Industri. Pada jenis ini mahasiswa melaksanakan pemagangan sesuai dengan project yang diberikan oleh pihak Industri selama enam bulan. Peserta magang dinyatakan selesai mengikuti pemagangan setelah menyelesaikan pekerjaan dengan waktu yang telah ditentukan, yang kemudian diakui oleh pihak industri dengan mengeluarkan sertifikat industri sesuai dengan project tersebut.


Program Magang Mahasiswa Bersertifikat diresmikan pada 2018 lalu. Ketika berjalan, tidak dapat dipungkiri dalam prosesnya terdapat beberapa kendala. Berikut adalah pandangan Presiden Asosiasi Indonesia Career Center Network (ICCN), Dr. Eng. Bambang Setia Budi, memberikan tanggapan mengenai Program Magang Mahasiswa Bersertifikat tersebut.


Apa pendapat Anda mengenai program ini?


Secara pribadi, ini adalah program yang harus didukung oleh semua pihak. Melalui program ini, kita mengetahui sebenarnya kebutuhan perusahaan itu seperti apa, perusahaan ingin pekerja seperti apa. Program magang di manapun merupakan hal yang baik, karena magang ini yang akan memberikan pengalaman dan pelajaran kepada mahasiswa lebih dari teori di kelas. Bahkan dapat memperkecil gap antara dunia akademik dan dunia kerja.


Memang dalam proses pelaksanaannya terdapat beberapa kendala, terutama perihal durasi magang tersebut. Perusahaan BUMN memberikan syarat kepada mahasiswa untuk melaksanakan magang selama enam bulan secara fokus. Mahasiswa yang mengikuti program ini diharapakan tidak sedang mengambil kuliah, artinya sedang cuti. Jika tidak cuti, case lainnya adalah mahasiswa yang mendekati wisuda, jadi sedang menyusun tugas akhir.


Seperti yang terjadi di ITB, pada dasarnya perguruan tinggi tidak memberikan kewajiban kepada mahasiswa untuk melakukan magang selama enam bulan itu. Kalau ada pun magang hanya dua atau tiga bulan. Program magang ini dilaksanakan minimal enam bulan. Alasannya menurut pihak user atau pihak perusahaan, jika hanya magang dengan durasi satu-dua bulan yang disyaratkan perguruan tinggi, mahasiswa belum mendapatkan apa-apa. Mahasiswa di sana hanya melihat-lihat perusahaan, belum dapat terlibat dalam suatu project.


Maka memang, waktu enam bulan tersebut tidak sesuai dengan kurikulum yang ada di beberapa perguruan tinggi. Karena tidak ada kewajiban tersebut, banyak mahasiswa yang awalnya mendaftar memilih untuk mengundurkan diri dengan alasan tidak ingin cuti atau tidak ingin tertinggal wisudanya karena mengikuti magang ini. Toh magang ini pun tidak masuk penilaian kampus, artinya mereka (mahasiswa) tidak mendapatkan apa-apa secara akademik.


Apa saran Anda untuk Perguruan Tinggi terhadap program ini?


Sebenarnya, kurikulum yang ada belum match dengan program, belum bersinergis. Yang terjadi, jika mengacu pada kurikulum di kampus, hampir 99 persen perguruan tinggi akhirnya tidak inline dengan program ini. Misalnya durasi waktu magang selama enam bulan. Enam bulan itu adalah waktu minimal yang diberi oleh perusahaan agar mahasiswa dapat benar-benar mendapatkan pelajaran, pengetahuan dan pengalaman di perusahaan itu.


Jadi, bukan hanya sebulan dua bulan magang. Kalau benar-benar ingin mendapatkan ilmu dari perusahaan ya sembilan bulan atau satu tahun magang. Tetapi, jarang perguruan tinggi yang bisa memberikan sks hingga enam bulan magang kepada mahasiswa. Dari sisi universitas, mahasiswa mengikuti magang terlalu lama akan berdampak pada kuliah mereka, kuliah akan molor atau mungkin yang harusnya mahasiswa di kampus menyelesaikan perkuliahan, ini harus cuti.


Walaupun begitu, ada beberapa universitas menyanggupi, tetapi hanya prodi-prodi tertentu yang berkemungkinan magang selama enam bulan. Jadi, sksnya dikasih khusus untuk magang tersebut. Akan tetapi, hanya satu-dua prodi di beberapa perguruan tinggi, dan banyaknya perguruan tinggi swasta, tetapi kalau negeri hampir tidak ada, bahkan jarang sekali.


Pada akhirnya, kesempatan ini seringkali dimanfaatkan oleh perguruan tinggi swasta. Untuk penyelarasan kurikulum memang perguruan tinggi swasta lebih fleksibel dan lebih berani untuk melakukan perubahan. Berbeda halnya dengan perguruan tinggi negeri, perubahan kurikulum harus melalui beberapa tahapan, mulai dari evaluasi, dan memang prodi-prodi tersebut memiliki hegemoni tersendiri, tidak serta merta berubah dalam hitungan cepat.


Kementerian sendiri sebenarnya menargetkan 20.000 mahasiswa untuk tahun 2019. Tetapi, yang terjadi perguruan tinggi kurang support, tidak mudah. Ya memang sih pasti akan ada konsolidasi dulu, alot ya kalau untuk kurikulum, tetapi kita harus tetap ada orientasi pada user. Jangan sampai kita mencetak lulusan yang tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan.


Padahal, perusahaan adalah pengguna lulusan kita, jadi yang harus menyesuaikan, tinggal mengatur aja kurikulumnya. Kita atur sedemikian hingga berapa sks yang harus kita alokasikan atau mungkin dikonversi ke mata kuliah yang lain, mata kulian tertentu, atau mungkin dimasukan dalam tugas akhir, atau apapun ide itu dibuat sedemikian hingga mahasiswa yang mengikuti program ini dihargai juga di kampus yang kemudian mereka tidak harus dirugikan dalam hal akademik.


Memang persoalan Bangsa Indonesia adalah sinergitas. Mudah-mudahan semakin disadari dan semakin bagus kedepannya. Ibaratnya, bola ini sudah berjalan, tinggal sekarang siapa yang menyesuaikan, tentunya perguruan tinggi.


Perguruan tinggi harus menyesuaikan, jangan punya ego yang sangat besar untuk tidak melakukan perubahan, tidak mungkin. Kecuali memang belum tahu informasinya, kalau udah tahu informasinya ya tinggal menyesuaikannya. Supaya inline dengan kebutuhan industri.


Apa saran Anda untuk FHCI dan Perusahaan terhadap program ini?


Untuk FHCI sendiri, perlu adanya konsolidasi antara FHCI dengan BUMN agar kordinasi yang dilakukan lebih baik lagi. Beberapa BUMN sepertinya tidak sepemahaman dengan program ini. Menurut saya, memang ada beberapa BUMN yang tidak seirama dengan FHCI, dalam arti banyak perusahaan yang tidak persis pemahaman, langkah-langkah atau program yang dimaksud.


Misalnya kendala periode, mungkin keterbatasan juga waktunya. Saat sudah seharusnya jadwal seleksi, kemudian ada satu dan lain hal ternyata harus diundur. Jadi mundur. Padahal untuk kampus sendiri sudah jelas waktunya, kapan mahasiswa harus cuti dan lain sebagainya. Akhirnya banyak juga yang tidak jadi mengikuti program karena waktunya tidak sesuai dari mulai hingga berakhirnya. Tidak sesuai dengan kesepakatan.


Ada juga kendala seleksi. Katanya seleksi oleh kampus, tetapi ternyata perusahaannya pun menyeleksi kembali. Kalau jumlahnya lebih dari yang mereka butuhkan ada beberapa mahasiswa yang akhirnya tidak diterima. Tentu saja ada juga beberapa perusahan yang sudah jelas dan sebagiannya sudah berjalan sesuai dengan program.


Untuk sertifikat kompetensi setahu saya memang tidak semua mahasiswa mendapatkannya. Yang pasti adalah dapat sertifikat (keterangan telah magang) dari perusahaannya. Untuk sertifikat kompetensi adalah pilihan atau hanya diberikan kepada peserta magang yang memiliki kinerja yang bagus. Jadi, ada dua sertifikat. Tetapi dalam hal ini, disayangkan tidak semua standarnya sama percis dengan gagasan atau program seperti ini. (MAR)