NCDA dan ICCN





Bambang SB.



Tulisan ini dimaksudkan untuk sharing atau berbagi pengetahuan, wawasan dan pengalaman berinteraksi yang berkaitan dengan sebuah asosiasi pengembangan karir tertua di dunia yakni National Career Development Association atau NCDA dari Amerika, dan menjelaskan posisi lembaga atau institusi yang baru dirikan di Indonesia bernama Indonesia Career Center Network atau disingkat ICCN. Lebih lanjut, tulisan ini ditujukan sebagai oleh-oleh pertama dari saya secara pribadi sebagai peserta dari Annual Conference NCDA yang baru lalu di Chicago, USA tanggal 29 Juni-2 Juli 2016 untuk kolega-kolega yang tergabung di dalam Indonesia Career Center Network khususnya dan semua pegiat pusat karir dan pengembangan karir di Indonesia pada umumnya.





Meski judulnya disandingkan, tulisan ini sebenarnya tidak bermaksud untuk membandingkan kedua institusi itu karena sebenarnya tidak sebanding dan juga tidak sejenis. Namun demikian ada beberapa hal yang terkait dan bahkan banyak yang bisa dipelajari dari memaparkan satu persatu atau masing-masing sebagai pengantar untuk mengerti dan memahami apa, siapa dan mengapa, serta bagaimana situasi dan kondisinya, fenomena yang ada serta kelebihan dan kekurangannya untuk diambil pelajaran khususnya bagi kemajuan kita sendiri para pegiat pusat karir dan pengembangan karir di Indonesia. Pada bagian akhir sebelum penutup saya juga sedikit paparkan pengalaman negara Jepang dalam kaitannya dengan asosiasi dan/atau kelembagaan pengembangan karir dan tumbuh kembangnya untuk juga dapat diambil pelajaran/hikmahnya.


Tentang NCDA


National Career Development Association atau NCDA adalah sebuah asosiasi tempat berkumpulnya ribuan praktisi, pendidik, ilmuwan/scholar, hingga mahasiswa yang berupaya mempromosikan pengembangan karir bagi semua orang sepanjang hayatnya. Asosiasi ini menyediakan program-program dan layanan untuk profesi pengembangan karir dan publik yang tertarik pada bidang pengembangan karir termasuk namun tidak terbatas pada aktifitas-aktifitas pengembangan profesional, memproduksi publikasi-publikasi, hasil-hasil riset, informasi-informasi umum, standar-standar, advokasi dan pengakuan serta penghargaan kepada para praktisi dan pendidik yang bekerja dalam bidang pengembangan karir, menginspirasi dan memberdayakan individu-individu untuk memperoleh atau mendapatkan karir mereka dan tujuan-tujuan hidupnya.


Asosiasi ini telah memiliki sejarah panjang yang berdiri sejak tahun 1913 dengan nama awalnya National Vocational Guidance Association atau disingkat NVGA. Berawal dari “Gerakan bimbingan anak-anak muda yang belum berpengalaman bekerja” yang tumbuh pesat sejak awal abad ke-20 dan kemudian di wadahi dengan nama National Vocational Guidance Association (NVGA) tersebut, maka terbit jurnal “Vocational Guidance” dan diadakannya pertemuan pertama NVGA yang berlangsung pada tanggal 21-24 Oktober 1913 di Grand Rapids, Michigan. Istilah Guidance atau bimbingan menjadi label popular untuk menamai gerakan konseling di sekolah-sekolah selama hampir 50 tahun kemudian. Selanjutnya berkembang Career Education and Guidance Movement atau Gerakan Pendidikan dan Bimbingan Karir dan Vocational Guidance atau Bimbingan Kerja.


Pada tahun 1983, NVGA berganti namanya menjadi National Career Development Association atau disingkat NCDA. Asosiasi ini telah menjadi salah satu dari 4 asosiasi pendiri the American Counseling Association atau ACA. Asosiasi ini kini juga telah menjadi asosiasi ketiga terbesar dan salah satu dari 20 divisi asosiasi di bawah the American Counseling Association atau ACA tersebut. 1)


Pada perkembangannya, NCDA telah menjadi pemimpin dalam mengembangkan standar-standar untuk profesi pengembangan karir, untuk ketentuan dari program-program konseling karir dan layanan-layanan, serta evaluasi berbagai bahan/material informasi tentang karir. Asosiasi ini juga bekerja untuk memberikan lisensi dan mandat dukungan serta pengakuan kepada para konselor karir dan fasilitator pengembangan karir. Asosiasi menyusun standar-standar etika untuk profesi pengembangan karir termasuk panduan untuk ketentuan-ketentuan layanan karir melalui internet. Untuk semua informasi, sumber-sumber dan berbagai perangkat untuk profesional pengembangan karir tersebut, NCDA menyediakan dan memeliharanya di situs beralamat di http://www.ncda.org.


NCDA dipimpin oleh Board of Directors yang semua anggotanya merepresentasikan asosiasi untuk seluruh publik audien melalui representasi kebijakan-kebijakan, prosedur-prosedur, dan nilai-nilai yang cocok dari asosiasi. Board ini terdiri dari Officer dan 6 Trustess. Officer asosiasi dipimpin oleh seorang Presiden yang menggunakan kepemimpinan menerima misi dari asosiasi. Dalam hal tidak bisa dihadiri atau absen, diwakili oleh Presiden-Elect, dan bila keduanya tidak bisa atau absen diwakili lagi oleh Presiden-Elect-Elect. Sejak 1913 hingga 2016 ini, NCDA sudah berganti jumlah presiden sebanyak 96 kali karena masa jabatannya hanya 1 tahun. Presiden saat ini untuk tahun masa kepemimpinan 2015/2016 dijabat oleh seorang wanita bernama Cynthia Marco-Scanlon.


Sementara secara administrasi ditunjuk oleh Board seorang Direktur Eksekutif yang bertanggung jawab day-to-day menyangkut organisasi, termasuk membawa tujuan-tujuan dan kebijakan-kebijakannya. Semua dijelaskan secara detil dalam semacam AD/ART (dokumen Proposed by Laws, May 2016). Di dalam dokumen juga disebutkan secara rinci mengenai keanggotaan/membership dan dekripsinya, durasinya, serta pemberhentiannya. Setidaknya ada 7 jenis keanggotaan seperti: 1) Profesional Members yang mesti memiliki pendidikan bergelar master atau lebih tinggi dalam bidang konseling atau bidang yang berhubungan erat dari universitas yang terakreditasi, 2) Regular Members, siapa saja yang tertarik dan memiliki minat terhadap pengembangan karir dan siap menegakkan misi dan prinsip-prinsp asosiasi, selain itu ada 3) Life Members, 4) Retired Members, 5) Students Members, 6) New Professional Members, dan 7) Ex Officio Members.


NCDA memiliki pertemuan tahunan yang disebut sebagai Annual Meeting yang bersamaan dengan tempat dan waktunya pada saat diadakan Annual Conference atau Konferensi Tahunan. Pada saat konferensi tahunan global yang selalu dihadiri ribuan profesional pengembangan karir itu, dilakukan pengakuan dan pemberian penghargaan serta hibah keuangan bagi anggota terpilih yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam pengembangan teori, riset, dan praktik konseling pengembangan karir. Kegiatan ini telah menjadi ciri tersendiri dari asosiasi.


Asosiasi juga memiliki divisi-divisi atau semacam chapter untuk negara-negara bagian (State Division) terkait dengan teritori atau wilayah. Selain itu, karena salah satu program layanannya menyediakan atau memproduksi publikasi, ada banyak sekali resources yang diproduksi oleh asosiasi dan bisa diakses diantaranya: 1) the Career Development Quarterly (berupa jurnal), 2) Career Development (berupa majalah), dan 3) the Career Convergence (berupa majalah online/web). Semua merupakan official publications dari NCDA. Selain itu asosiasi juga mendukung program-program non periodik atau publikasi-publikasi tunggal yang diproduksi di bawah supervisi Dewan Pengembangan Publikasi atau Publications Development Council.


Pada skala global, NCDA mempromosikan berbagai kebijakan tenaga kerja dan praktek dan menyambut afiliasi internasional pertama pada tahun 2002 yakni dari Japan Career Development Association atau Asosiasi Pengembangan Karir Jepang. Selain Jepang, saat ini afiliasi internasionalnya telah meliputi: Asia Pacific Career Development Association, Career Consultant Forum of South Korea, Elnamaa International Affiliate (Egypt), dan Peru Career Development Association.


Tentang ICCN


Indonesia Career Center Network atau ICCN merupakan sebuah jejaring pusat-pusat karir dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia yang terbentuk pada tahun 2016 ini. Jejaring ini merupakan kumpulan berbagai pusat karir di banyak perguruan tinggi di Indonesia yang telah memiliki pusat karir di tingkat universitasnya. Jejaring ini dibentuk untuk meredefinisi, menentukan arah, menguatkan peran, meningkatkan kualitas layanan, dan pengembangan pusat karir di berbagai perguruan tinggi hingga akhirnya peningkatan kualitas SDM di Indonesia.


Berawal dari gagasan untuk saling berkomunikasi, berkontak, mendukung, berbagi, dan saling menguatkan hingga dapat membuat agenda bersama dan bekerja sama yang lebih kongkrit dalam skala yang lebih luas baik antara beberapa pusat karir maupun seluruh pusat karir di Indonesia, maka beberapa pertemuan telah digelar sejak di ITB (Bandung) untuk pertama kali pada tanggal 12 Desember 2015 (10 Pusat Karir), di ITS (Surabaya) tanggal 14 Januari 2016 (20 Pusat Karir) dan di IPB (Bogor) tanggal 21 Januari 2016 (31 Pusat Karir) jejaring ini lahir, dibentuk dan disepakati dengan nama Indonesia Career Center Network (ICCN). Selanjutnya pertemuan di UGM (Yogyakarta) selama 2 hari yakni tanggal 26-27 Februari 2016 (dihadiri oleh 56 Pusat Karir).


Kehadiran jejaring ini merupakan wadah atau sarana berbagi pengetahuan, pengalaman, konsultasi, dan mencari solusi-solusi permasalahan dalam mengelola dan menguatkan peran pusat karir di perguruan tinggi. Dengan jejaring ini juga diharapkan adanya percepatan dalam penguatan peran, layanan, dan profesionalisme pengelolaan pusat karir yang disesuaikan dengan karakter perguruan tinggi masing-masing. Lebih dari itu jejaring juga menjadi sebuah konsekuensi dan kebutuhan sekaligus harapan untuk dapat menjawab tantangan-tantangan di masa depan yang dihadapi oleh pusat karir itu sendiri khususnya dan permasalahan SDM lulusan perguruan tinggi dan ketenaga-kerjaan di Indonesia pada umumnya.


Melalui jejaring ini diharapkan menjadi sarana bertemunya semua stakeholder yang berkaitan dengan SDM di Indonesia, baik dari unsur pemerintah di lintas kementrian, perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, perusahaan-perusahaan atau pengguna lulusan, berbagai asosiasi profesi/pekerja, para mahasiswa dan alumni perguruan tinggi dan para pencari kerja itu sendiri di Indonesia. Tujuan akhirnya adalah peningkatan kualitas SDM di Indonesia.


Saat ini, setidaknya ada 150 pusat karir yang bergabung dalam jejaring. Meskipun tercatat telah ada sekitar 520 pusat karir di berbagai perguruan tinggi di Indonesia namun kenyataannya masih banyak sekali yang belum aktif atau belum menjalankan aktifitas/kegiatannya. Sifat keanggotaan dalam jejaring juga hingga saat ini belum didefinisikan, karena jejaring ini juga baru akan dimatangkan dalam bentuk organisasi formal dengan badan hukum, lengkap dengan AD/ART, struktur, renstra dan program-programnya di tahun 2016 ini.

Meski belum memiliki aspek formal dan struktur yang jelas, pertemuan besar pertama telah berhasil diselenggarakan dengan nama Indonesia Career Center Summit di ITB Bandung pada tanggal 3-4 Mei 2016 yang dihadiri oleh perwakilan dari 120 Pusat Karir dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dari Aceh hingga Papua. Pada saat Summit dibentuk 6 working group discussion yang merupakan rangkuman dari kelompok-kelompok layanan-layanan pusat karir di Indonesia saat ini seperti: Career Services, Career Fair Event, IT Management & Social Media, Entrepeneurship, Career Counceling &Training serta Tracer Study. Berbagai masukan dan keluaran, termasuk rekomendasi hasil Summit telah dihasilkan untuk masa depan dan pengembangan karir bagi SDM khususnya di level Perguruan Tinggi di Indonesia juga telah dirumuskan sebagiannya.


Khusus berkaitan dengan tugas/layanan dan peran pusat karir dalam Career Counseling, ini dirasakan merupakan layanan yang termasuk baru dan belum matang. Sepanjang pengetahuan saya, pada awal tahun 2012, layanan ini baru ada di Pusat Karir Universitas Bina Nusantara (BINUS) Jakarta. Pada waktu itu sudah ada 3 konselor pengembangan karir yang berlatar belakang psikologi bertugas setiap hari di pusat karir tersebut. Namun saat ini sudah mulai banyak pusat karir yang menyediakan layanan ini, seperti pusat karir di UGM, ITB, UNAIR, UNPAR, PETRA dan lain sebagainya.


Persoalannya selain masih relatif sedikit secara jumlah konselor dan penyelenggara, juga relatif belum populer sebagai layanan pusat karir di Indonesia saat ini. Lebih jauh dari itu, para konselor karirnya mungkin juga belum ada yang tersertifikasi sebagai konselor pengembangan karir baik yang dari latar belakang psikolog maupun yang bukan. Ini persoalan yang mengemuka ketika belum ada atau belum cukup pembekalan, pelatihan, kursus, atau kurikulum hingga apalagi standar dan sertifikasi berkaitan dengan praktisi dan profesional/konselor untuk pengembangan karir ini.


Peran pusat karir di perguruan tinggi di Indonesia masih banyak pada fokus memberikan info dan layanan peluang kerja, rekrutmen/campus hiring, hingga bursa kerja, atau (sebagiannya) entrepreneurship mahasiswa, namun untuk pemberian bekal dan konsultasi dan konseling pengembangan karir ini belum menjadi salah satu yang utama dalam peran dan layanannya. Pada kurang dari 10 tahun terakhir, peran pusat karir juga bertambah dengan dibebankannya riset Tracer Study, dan bahkan hal itu juga mendorong dibentuknya pusat-pusat karir baru di berbagai universitas karena agar bisa mengakses dana hibah dari pemerintah/DIKTI. Fokus yang agak bergeser pada peran riset ini cukup mengemuka pada beberapa tahun terakhir ini, karena memang Tracer Study dianggap dan dirasakan sangat penting untuk memenuhi dan mengisi data akreditasi perguruan tinggi.


Kembali pada peran dan layanan konseling atau bimbingan pengembangan karir, semestinya menjadi salah satu fungsi dan peran utama/penting dalam sebuah pusat karir di perguruan tinggi di Indonesia. Karena ini mestinya sudah menjadi layanan generik yang perlu dibangun di setiap pusat karir. Ke depannya, perlu disiapkan secara kuantitas dan kualitas konselor pengembangan karir, baik berlatar belakang psikolog maupun yang non psikolog dengan pelatihan dan wokshop atau kursus-kursus hingga sertifikasinya. Asosiasi tempat berkumpulnya para praktisi, pemerhati, ilmuan, peneliti, dan profesional pengembangan karir perlu dibentuk untuk menjadi wadah peningkatan mutu dan kualitasnya, hingga sertifikasinya. Karena menjadi kebutuhan, ICCN diharapkan mampu ikut mendorong terbentuknya asosiasi tersebut untuk penguatan peran dan peningkatan layanan khususnya di bidang konseling karir yang semakin baik dan profesional pada pusat-pusat karir di perguruan tinggi di Indonesia.


Ke depannya, ICCN juga bisa bekerja sama dengan asosiasi bimbingan dan konseling yang sudah ada di Indonesia seperti Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN) dan/atau Asosiasi Konseling Indonesia (IKI) untuk membentuk Asosiasi Pengembangan Karir Indonesia (misalnya APKI) sehingga menjadi wadah untuk para praktisi, profesional, peneliti, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan pengembangan karir seperti National Career Development Association (NCDA) di Amerika yang telah berdiri sejak 1913 tersebut.

Bila NCDA merupakan asosiasi pertama di dunia yang berdiri di Amerika berkaitan dengan pengembangan karir dengan anggotanya merupakan individu-individu para praktisi, pendidik, ilmuan/scholar, dan mahasiswa, sebenarnya ICCN adalah juga jejaring pertama di dunia yang beranggotakan institusi pusat-pusat karir di level universitas atau perguruan tinggi khususnya di Indonesia. Fenomena ICCN yang kita harapkan banyak manfaatnya ini adalah juga tonggak berdirinya jejaring itu yang belum ada presedennya dimana pun di seluruh dunia. Melalui ICCN, diharapkan akan lebih mendorong dan mengakselerasi berbagai unsur yang berkaitan dengan pengelolaan dan pengembangan karir, SDM dan ketenagakerjaan di Indonesia termasuk mendorong tumbuh-kembangnya konseling pengembang karir, pendidikan dan pelatihan para konselor, hingga asosiasi dan serfikasinya.


Asosiasi Pengembangan Karir di Jepang atau the Japan Career Development Association (JCDA)
Di tahun 2000, Mr. Ryoji Tatsuno menginisiasi terbentuknya Asosiasi Pengembangan Karir Jepang atau the Japan Career Development Association disingkat JCDA. JCDA ini didirikan pada tanggal 1 Februari 2000 dan saat ini berkantor di Tokyo. Berbeda dengan NCDA yang presidennya berganti-ganti setiap tahun, presiden di Japan Career Development Association masih tetap dijabat oleh Mr Ryoji Tatsuno sejak pertama didirikan. Semua keterangan dan hal terkait asosiasi di website nya http://www.j-cda.jp.


Melalui JCDA, NCDA diminta untuk membantu mengembangkan kurikulum bagi advisor pengembangan karir atau Career Development advisor di tahun 2000. Pelatihan Career Development Advisor di Jepang memerlukan waktu 3 hingga 4 bulan dan 140 jam coursework. Selain itu, dilakukan ujian untuk mendapatkan sertifikat. Sertifikat tersebut berlaku selama lima tahun dan harus diperbaharui dengan memerlukan pendidikan lanjutan untuk sertifikasi ulang. Pada umumnya mereka bekerja di pusat-pusat karir universitas, public agencies, HR departemen dari perusahaan-perusahaan swasta, dll.


Pada bulan Oktober 2000, telah dilakukan pertemuan yang dinamakan Career Counseling Forum JCDA pertamanya di Tokyo. Pada pertemuan pertama ini mereka menegaskan dirinya sebagai asosiasi non-profit yang bekerja untuk pengembangan karir di Jepang. Pada bulan April 2001, melakukan pertemuan Career Counseling Forum kedua yang disponsori oleh Departemen Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan, Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri.


Para advisor pengembangan karir di Jepang saat ini banyak bekerja membantu para pekerja generasi muda untuk menemukan tempat bekerja yang tepat di pasar kerja, dan para pekerja senior untuk mencari makna ketika pensiun atau karir keduanya. Mereka menyediakan layanan yang berkaitan dengan strategi-strategi, motivasi dan kepuasan, keseimbangan kehidupan kerja dan keragaman. Pada perkembangan selanjutnya The Japan Career Development Association atau JCDA juga menginiasi terbentuknya Asia Career Development Association pada bulan November 2011.


Namun sebelum JCDA tersebut terbentuk, sebenarnya telah berkembang dan berdiri Japanese Society for the Study of Career Guidance (JSSCG) yang menyediakan layanan akreditasi untuk konselor karir sejak tahun 1994. Pada tahun 2000, JSSCG bersama dengan Japanese Association of Counseling Science (JCA) dan Japanese Association of Educational Psychology (JAEP) bersama-sama mendirikan the Japan Educational Counselor Association yang telah berkontribusi pada pengembangan aktifitas konseling di sekolah-sekolah, termasuk akreditasi untuk level junior, intermediate dan advance dari sekolah konselor.


Pada waktu saya mengikuti NCDA Global Career Davelopment Conference di Chicago 29 Juni-2 Juli yang baru lalu, sempat bertemu dengan rombongan dari Jepang sebanyak 6 orang. Semuanya dari the Japanese Society of Career Counseling. Asosiasi ini beralamat website di http://www.npo-jcc.org. Beberapa sempat berbincang-bincang dan bertukar kartu nama dengan saya karena kebetulan duduk bersebelahan pada sesi general closing adalah Mr. Minoru Sakuda (Direktur Japanese Society of Career Counseling), Prof. Ozawa Yasuji dan Prof. Shujiro Mizuno, Ed.D yang keduanya dari Fakultas Psikologi Universitas Rissho. Yang menarik adalah Mr. Minoru Sakuda sebagai direktur justru tidak berlatar belakang psikologi tetapi dari teknik/engineering. Beliau mengenalkan hal itu kepada saya sembari tersenyum.


Sebagai penutup dari tulisan pengantar ini, beberapa hal yang perlu difahami adalah bahwa NCDA sebagai asosiasi tertua di dunia yang beranggotakan individu-individu berkaitan dengan pengembangan karir tentu sudah sangat matang, dirasakan eksistensinya, dan bahkan telah menjadi penggerak/motor dan pemimpin di dunia pengembangan karir. Jepang dan beberapa negara Asia menyusul kemudian dan terbentuk beberapa asosiasi pengembangan karir dalam lingkup Asia, hingga Asia Pacific. Indonesia termasuk yang belum berkembang (bila tidak disebut masih ketinggalan) untuk profesi konselor dan layanan pengembangan karir ini. ICCN sebagai institusi jejaring pusat karir bisa mendorong dan mengakselerasi perkembangan dan percepatan itu, termasuk terbentuknya pelatihan, pendidikan, hingga asosiasi dan sertifikasinya, sehingga layanan di dalamnya termasuk konseling karir semakin baik, matang, dan berkualitas. Tujuannya tentu akan semakin meningkatnya kualitas SDM, memperkecil jenjang/gap dunia pendidikan dan dunia kerja, memberdayakan para mahasiswa dan alumninya untuk menapaki karir mereka dengan baik dan sukses di masa depannya. Hingga akhirnya juga kemajuan di berbagai bidang di negeri ini, Indonesia.


****

Ditulis di Chicago dan diedit ulang di Bandung, Juli 2016


[i]1) K[/i]e-20 divisi asosiasi di bawah[i] the American Conseling Association [/i]atau ACA adalah sebagai berikut[i]: 1) Association for Adult Development and Aging (AADA) [/i]berdiri tahun 1986,[i] 2) Association for Assessment and Research in Counseling (AARC) [/i]berdiri tahun 1965,[i] 3) Association for Child and Adolescent Counceling (ACAC), 4) Association for Creativity in Counceling (ACC), 5) American College Counseling Association (ACCA) [/i]berdiri tahun 1991[i], 6) Association for Counselor Education and Supervision (ACES) [/i]salah satu pendiri ACA di tahun 1952[i], 7) The Association for Humanistic Counseling (AHC) [/i]sebelumnya C-AHEAD salah satu pendiri ACA di tahun 1952[i], 8) Association for Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender Issues in Counseling (ALGBTIC), 9) Association for Multicultural Counseling and Development (AMCD) [/i]berdiri tahun 1972[i], 10) American Mental Health Counselors Association (AMHCA)[/i] berdiri tahun 1978[i], 11) American Rehabilitation Counseling Association (ARCA), 12) American School Counselor Association (ASCA) [/i]berdiri tahun 1953,[i] 13) Association for Spiritual, Ethical, dan Religious Values in Counceling (ASERVIC) [/i]didirikan tahun 1974[i], 14) Association for Specialists in Group Work (ASGW)[/i] berdiri tahun 1973,[i] 15) Counselors for Social Justice (CSJ), 16) International Association of Addictions and Offender Counselors (IAAOC) [/i]awalnya bernama [i]the Public Offender Counselor Association, IAAOC [/i]berdiri tahun 1972[i], 17) International Association of Marriage and Family Counselors (IAMFC) [/i]berdiri tahun 1989,[i] 18) Military and Government Counseling Association (MGCA) [/i]sebelumnya bernama ACEG[i] the Military Educators and Counselors Association, MGCA [/i]berdiri tahun 1984[i], 19) National Career Development Association (NCDA) [/i]awalnya bernama [i]the National Vocational Guidance Association [/i]berdiri tahun 1913, sebagai salah satu pendiri ACA di tahun 1952[i], 20) National Employment Counseling Association (NECA) [/i]berdiri tahun 1966.