Inovasi tiada henti dalam pengelolaan pusat karir





Bambang SB.



Ketika CEO Nokia mengakhiri kalimat dengan kata-kata: "We didn't do anything wrong, but somehow, we lost." (Kami tidak melakukan sesuatu yang salah, tetapi entah bagaimana, kami kehilangan). Merupakan kata-kata yang patut untuk direnungkan oleh siapa saja dalam melangkah dan mengambil tindakan untuk kemajuan dan kesuksesan di masa depan. Kalimat itu diucapkannya sambil mengusap air mata di depan tim manajemen Nokia diiringi air mata kesedihan oleh semua yang hadir.





Nokia sebenarnya bukan perusahaan ecek-ecek, beberapa sahabat saya dengan gelar Ph.D dari beberapa unversitas terkemuka di luar negeri pernah juga bekerja di divisi RnD nya di Tokyo. Namun mengapa, perusahaan ternama dan pernah berjaya itu bangkrut juga. Sebenarnya mereka tidak melakukan kesalahan dalam bekerja, tetapi dunia berubah terlalu cepat dan kompetitor-kompetitor mereka terlalu kuat.


Memang tetap saja ada yang terlewat atau hilang dari mereka, beberapa hal bisa disebutkan seperti ini: 1. Mereka kehilangan kesempatan untuk terus belajar, 2. Mereka kehilangan untuk terus membaca dan mengantisipasi perubahan yang sangat cepat, 3. Mereka kalah sigap dalam menyiapkan dan melakukan inovasi untuk mengikuti perkembangan zamannya dibanding dengan lawan-lawan atau kompetitor-kompetitornya.


Kenyataannya mereka bukan hanya kehilangan kesempatan untuk mengambil hal atau peran yang lebih besar di masa mendatang, tetapi mereka juga telah kehilangan keuntungan baik kecil maupun besar, bahkan paling parahnya adalah sekadar untuk bertahan hidup saja sudah tidak sanggup. Akhirnya mereka gulung tikar.


Pelajarannya, bila kita tidak mau terus menerus belajar, maka itu menjadi penyebab kita tidak peka atau kurang detil terhadap berbagai persoalannya khususnya kekinian. Sehingga kita ketinggalan di zaman yang terus mengalami perubahan. Tanpa belajar pula, inovasi tidak akan pernah tercipta atau perubahan kepada perbaikan akan menjadi sangat lamban.


Kalau itu terjadi, maka hanya akan membuat siapapun mereka, akan tereliminasi. Kita boleh saja tidak mau belajar hal-hal baru, tetapi bila kita tidak mengikuti perkembangan zamannya dan mempersiapkannya dengan baik maka siap-siap akan tergusur.


***


Sayangnya, lembaga atau institusi yang paling miskin inovasi ini adalah pemerintah kita itu sendiri. Lingkungan di kalangan birokrasi ini tampaknya sudah terbentuk sedemikian hingga sangat sibuk dan terjebak dengan urusan-urusan administrasi dan rutinitas. Sibuk dengan agenda-agenda dan program-program formal yang monoton dan menjemukan. Terlaksana program saja sudah baik, termasuk terserapnya anggaran sudah menjadi indikator keberhasilan.


Yang paling parah, biasanya adalah sistem IT - nya. Tak dipungkiri jika untuk sekadar mengubah hal-hal yang sangat krusial atau penting di webnya saja harus menunggu pihak ketiga. Tidak adanya kesigapan dan kurangnya kapasitas sistem manajemen informasi ini yang mengakibatkan segala sesuatunya berjalan sangat lamban. Belum lagi dari sisi keamanannya. Mungkin hingga beberapa saat ke depan, bila tanpa kebijakan dan perubahan yang signifikan, tak akan banyak yang bisa diharapkan dari sisi ini.


Masih mendingan itu lembaga pemerintah yang memang lebih banyak pada regulasi dan kebijakan. Kalau itu terjadi pada perusahaan swasta atau pengusaha/entrepreneur, bila tidak ada inovasi di dalam usaha/bisnisnya, maka itu hanya tinggal menunggu tanggal matinya.


Salah satu kunci utama dari kewirausahaan adalah juga inovasi itu sendiri. Tanpa itu tidak akan berkembang, hanya akan berjalan stagnan, bahkan hingga ujungnya mengalami kebangkrutan. Inovasi itu menyangkut dalam berbagai aspek, pada semua sektor, atau semua lini dan semua tahapan seperti pemilihan bahan dasarnya, input-nya, prosesnya, output-nya, hingga marketingnya.


***


Dalam lingkup lembaga pusat karir, untuk sebuah pusat karir dalam skala fakultas teknik di UGM saja, yakni ecc UGM memiliki 14 staf IT yang tergabung dalam satu divisi khusus IT. Tentu ini sangat powerful dan memiliki energi yang luar biasa. Apalagi di dalamnya semua adalah anak muda dan berwawasan luas.

Dalam beberapa waktu lalu, ITB Career Center melalui divisi IT - nya di Tracer Study juga telah melakukan soft launching open source Sistem IT Tracer Study dengan nama tracer.id sesuai dengan nama domainnya yang bisa dipergunakan oleh berbagai di perguruan tinggi di Indonesia. Dengan dukungan kehandalan sistem itu - meski bukan satu-satunya faktor - telah menjadikan pelaksanaan Tracer Study di ITB meningkat response rate-nya dari 34% dan 50% di tahun 2012, 72% di tahun 2013, 80% di tahun 2014, dan 93% di tahun 2015 yang baru lalu.


Itu hanyalah salah satu saja diantara inovasi dari sebuah pusat karir yang bisa disumbangkan kepada pusat karir dan perguruan tinggi lainnya, serta tentu juga akhirnya bagi kemajuan negeri ini. Berbagai pusat karir lainnya juga nantinya akan bergiliran menyumbangkan gagasan dan inovasi-inovasi lain dalam pengelolaannya untuk dapat juga dibagi atau disumbangkan kepada pusat karir dan perguruan tinggi lainnya.


Pada akhirnya, Indonesia Career Center Network (ICCN) atau jejaring ini harus mampu mendorong para anggotanya untuk terus mau belajar, mau terbuka, mau berbagi, dan serius mengelola pusat karir dalam lingkupnya sendiri, serta mau melakukan berbagai macam inovasi untuk pengembangan dan profesionalisme pengelolaannya. Selain itu ICCN juga mesti mampu bersinergi dengan pemerintah dan swasta dengan mengisi kekurangan-kekurangan atau celah-celah tersendiri bersama-sama dalam membangun negeri ini.


Harapannya, semua pusat-pusat karir di berbagai perguruan tinggi di Indonesia ini semakin besar dan kuat, semakin besar perannya, dan semakin vital serta sangat dirasakan manfaatnya bagi mahasiswa dan alumni perguruan tinggi masing-masing yang pada gilirannya adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di level pendidikan tinggi yang kompetitif dan berdaya saing pada saat ini dan yang datang.


--------


Bandung, 9/5/2016

Bambang S. Budi
Presiden Indonesia Career Center Network (ICCN)
Direktur ITB Career Center